Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Buku Hidup Bahagia » Halaman 21
 
Buku Hidup Bahagia
   
Halaman : [1] ... [19] [20] [21] [22] [23] ... [33]
 

 

Ukuran Baik-Buruk, Benar-Salah

Sebelumnya, kita pakai ukuran atau patokan mati, tentang baik-buruk, benar-salah. Kadang kadang, patokan itu dasarnya adalah kesepakatan manusia tentang apa yang dianggap baik dan buruk dan apa yang dianggap benar dan salah. Sering kita jumpai, bahwa norma dan nilai nilai yang demikian itu, berubah menurut perubahan jaman. “Owah-Gingsir”.

Selain itu, kalau sesuatu perbuatan sudah ditetapkan baik dan benar, maka dianggap berlaku setiap saat, setiap hari, sampai norma atau nilai itu diubah.

Misalnya, menolong orang itu dianggap baik dan benar. Tanpa harus tahu, apakah pertolongan kita itu kemudian disalah gunakan atau tidak. Padahal membantu orang melakukan perbuatan salah, berarti kita ikut salah.

Oleh karena itu, sesudah anda bisa Mijil, ketentuan baik-buruk, benar-salah, tidak lagi berpatokan pada ketentuan mati, melainkan pada ketentuan Hidup. Suatu perbuatan yang hari ini kita lakukan, adalah baik dan benar, belum tentu kalau perbuatan yang sama kita lakukan besok, tetap baik dan benar

Dengan Mijil dulu, sebelum melakukan suatu perbuatan, kita tidak akan salah kalau diijinkan oleh hidup, pasti baik dan benar. Kalau tidak diijinkan oleh hidup, dan tetap kita lakukan, pasti buruk dan salah.

Ada kalanya, kita terpaksa melakukan sesuatu, misalnya karena diperintah atasan, padahal kita tahu, hal itu tidak baik dan tidak benar. Sesudah Mijilpun, kita tahu, itu tidak baik dan tidak benar.

Dalam keadaan demikian, Mijilnya adalah sebagai berikut.

(Asmo), jeneng siro Mijilo, panjenengan Ingsun kagungan karso, raganiro arso “menjalankan perintah. Tanggung jawab kembali kepada yang memerintah (nindhakake perintah. Tanggungjawab bali marang sing mrentah)”. Maksudnya, tanggungjawab kepada Tuhan. Sedang tanggungjawab secara lahiriah, kita tetap bertanggungjawab kepada yang memerintah.

Jadi, tak seorangpun tahu, bahwa sebenarnya, tanggungjawab kepada Tuhan sudah kita kembalikan kepada yang memerintah kita.

Menurut pengalaman, kalaupun terjadi sesuatu di kemudian hari, kita akan dilindungi (“dhiayomi”) oleh Hidup. Cara, jalan dan bentuknya, sering tidak masuk akal.

Anda, tiap bangun tidur “Kunci”, mau tidur “Kunci”, ada apa-apa “Kunci”, tidak ada apa-apa “Kunci”. Lalu sebelum berbuat sesuatu “Mijil” lebih dulu, dan sesudah “Mijil”, anda selalu mematuhi karsanya Hidup (Ingsun), dan mengalahkan karsanya Aku.

Berarti, anda sudah menjadi Penghayat Laku Kasampurnan Manunggal Kinantenan Sarwo Mijil (Penghayat Kapribaden).

Tetapi, yang anda hayati dan amalkan itu, baru menapak di jalan yang baik dan benar di dunia. Yaitu di jalan yang dikehendaki Tuhan atas diri anda.

 

Copyright © 2005-2026 Kapribaden - V.1.9. All rights reserved.